April 9, 2008
Ditinggal Tidur, SBY Geram
Rabu, 09 Apr 2008,




JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) benar-benar gusar melihat aksi tidur pulas yang dilakukan peserta Forum Konsolidasi Pimpinan Pemerintahan Daerah di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) kemarin. SBY menilai, peserta yang terdiri atas bupati, wali kota, dan pimpinan DPRD itu telah menipu rakyat.
"Bangunkan yang tidur itu! Kalau tidur, di luar saja," kata SBY dengan nada tegas sambil menunjuk ke arah peserta. Sesaat sebelum membangunkan peserta, SBY bahkan sempat menghentikan pidato sambil memukul meja. Karena ada mikrofon, suara pukulan itu terdengar makin keras hingga mengagetkan 86 peserta forum konsolidasi pemerintah daerah itu.
Suasana pertemuan mendadak hening. Beberapa peserta langsung menyempurnakan posisi duduk. Ada juga yang mengusap matanya agar tidak terlihat habis tidur. "Bagaimana memimpin rakyat kalau di ruangan ini tidur. Malu kepada rakyat. Dipilih rakyat malah tidur. Sedang membicarakan upaya untuk memajukan daerahnya kok tidur," kata SBY.
SBY sempat melihat lagi para peserta barangkali masih ada yang terlihat mengantuk. Setelah menghela napas panjang, SBY kembali menumpahkan kejengkelannya. "Jangan main-main dengan tanggung jawab. Berdosa, bersalah kepada rakyat. Kepemimpinan berangkat dari diri kita," tandasnya.
Saking jengkelnya, SBY juga meminta Gubernur Lemhannas Muladi untuk mencari siapa saja yang tertidur saat mendengarkan pidato. "Lemhannas harus bisa luruskan kepribadian jelek. Pintar, tapi kepribadiannya jelek akan jadi racun. Jangan diluluskan. Biar rakyat tahu, bukan karena tidak pandai, tapi karena kepribadiannya jelek," kata SBY. Muladi yang duduk di depan pun mengangguk-angguk.
Acara pembekalan presiden kemarin digelar pagi, sekitar pukul 08.00. Sebab, jadwal SBY hari itu sangat padat. Selain harus melantik duta besar, SBY dijadwalkan melakukan kunjungan kerja ke Indramayu. Suhu dingin air conditioning di gedung Lemhannas membuat sebagian peserta mengantuk. Bahkan, ada beberapa peserta tertunduk dan matanya terpejam saat SBY membuka pidato. Sebagian lagi berusaha keras menahan kantuk.
SBY kemudian meneruskan lagi pidatonya. Presiden mengingatkan bupati dan wali kota untuk proporsional dalam menjalankan aktivitas politik menjelang 2009. "Jangan lalai dalam menjalankan tugas. Dosa besar," kata SBY.
Para kepala daerah diajak SBY memperkuat budaya malu dan mengakui kesalahan. "Di depan istana sering ada unjuk rasa. Tapi, ternyata banyak yang sebenarnya urusan bupati, masalah di kampung. Mestinya camat, bupati, wali kota malu, masa urusan begitu sampai ke depan istana. Mari kita berbagi urusan," kata SBY.(tom/iro)
Sumber: Jawa Pos








Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.