April 26, 2009
The Untouchables

SURABAYA - Tengara bahwa Gui Qing Lin (tersangka 8.790 butir ekstasi dan 155,4 gram ketamin yang ditangkap di Bandara Juanda) adalah jaringan bandar asal Nigeria bukanlah isapan jempol. Saat Lin diperiksa di Polda Jatim kemarin, sang bandar malah menghubungi HP milik wanita berusia 24 tahun itu. Lin menyebut nama pria di ujung sambungan telepon itu dengan nama Mr O, asal Nigeria.
Telepon dari Mr O itu diterima Lin sekitar pukul 12.00 kemarin. Menurut sumber Jawa Pos di Polda Jatim, Lin sengaja diizinkan mengangkat telepon tersebut agar petugas mendapat tambahan informasi. Namun, Mr O ternyata hanya ingin memberi tahu Lin bahwa kabar penangkapan di Bandara Juanda sudah sampai di Tiongkok. "Mr O tahu informasi tersebut dari televisi. Lin sudah membantah bahwa dia tertangkap. Tapi telepon itu langsung terputus," tambah sumber itu.
Kepada polisi, wanita asal Guangdong itu mengaku telah beberapa kali bertemu dengan Mr O. Pertemuan pertama terjadi di Guangdong. Ketika itu Lin mengaku diajak kerja sama Mr O bisnis pakaian anak di Indonesia. Karena itu, Lin diminta mencari contoh pakaian anak yang cocok dan harganya sesuai. "Versi Lin, dia setuju ajakan bisnis itu. Dia mencari contoh pakaian, kemudian menyerahkannya ke Mr O," kata sumber tersebut.
Pertemuan berikutnya terjadi di kota Guangzhou. Ketika itu, Mr O mengajak Lin untuk melanjutkan perjalanan selama dua jam menuju Bandara di kota Shenzen melalui jalur darat. Di bandara itu, Lin mengaku pakaian-pakaian yang sudah di serahkan ke Mr O di kemBalikan lagi kepadanya untuk dijual di Indonesia. Tapi barang itu sudah tersimpan rapi sebuah tas koper hitam. Lin mengaku tidak pernah tahu kalau di dalam koper itu ada ekstasi dan ketamin.
Rabu (22/4) sore, sekitar pukul 16.00 waktu Shenzhen, Lin diterbangkan menuju Singapura sebelum transit di Surabaya. Ketika di Shenzhen Mr O memberi petunjuk bahwa Lin akan dijemput orang setibanya Bandara Juanda. Dari Surabaya, Lin akan dibawa oleh orang tersebut ke Jakarta. "Sebelum berangkat Mr O juga memberikan kartu perdana seluler Indonesia. Lin diminta untuk mengaktifkan nomor tersebut begitu tiba di Surabaya," tambah sumber itu.
Namun, sebelum sempat dihubungi jaringan Mr O, Lin tertangkap petugas di
Bandara Juanda. Menurut II Ditreskoba Polda Jatim AKBP Sudirman, ribuan pil ekstasi dan bubuk ketamin yang diperkirakan senilai 2,896 miliar itu memang akan diserahkan ke bandar besar di Jakarta, kemudian didistribusikan ke wilayah-wilayah kota besar di Indonesia. "Tersangka kami perkirakan kurir sekaligus pemakai," kata Sudirman.
Dia menambahkan, pil berwarna merah muda tersebut adalah ekstasi buatan Tiongkok yang berkualitas tinggi. Biasanya, ekstasi jenis itu dijual dengan harga sekitar Rp 200 ribu.
Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai tipe A2 Juanda Argandiono menjelaskan, ribuan ekstasi itu disembunyikan di dalam lapisan kain bagian bawah koper berukuran 90 x 40 cm. Lapisan itu disobek, kemudian dimasuki ekstasi, setelah itu dilapisi dengan plastik sejenis mika. Kain itu tidak dijahit lagi, tapi hanya dilakban warna cokelat. Untuk mengelabui petugas, tas itu juga diisi berbagai macam pakaian.
Namun, tim operasi pengawasan narkotika dan psikotropika Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Juanda merasa curiga dengan tas hitam milik Lin. " Bagian bawah tas itu berubah menjadi gelap di monitor x-ray kami," kata Argandiono. "Biasanya, di monitor x-ray akan terlihat gambar hitam jika ditemukan barang yang diduga mengandung narkoba atau sejenisnya," imbuhnya.
Saat diperiksa lebih lanjut, ternyata ribuan ekstasi tersimpan di dalam tas itu. Setelah terbukti, tersangka langsung dibawa ke Kantor Bea Cukai Juanda. Siang kemarin, sekitar pukul 09.00, Lin diberangkatkan ke Polda Jatim untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. (kuh/fat)
Spread the word










