Amazon.com Widgets

March 12, 2008

Ahmadinejad Puja-Puji SBY

Ahmadinejad SBY

Rabu, 12 Mar 2008,
Ahmadinejad Puja-Puji SBY
Laporan Mochamad Elman Dari Teheran, Iran

TEHERAN - Diawali upacara militer yang berlangsung sederhana, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diterima di Kantor Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad kemarin pukul 07.30 waktu setempat atau sekitar pukul 11.00 WIB.

Begitu turun dari mobil di halaman kantor, sebuah gedung dua lantai, SBY langsung dirangkul dan dicium kedua pipinya oleh Ahmadinejad. "Ini pagi yang indah, pertemuan ini diridai Allah subhana wata’ala," kata SBY kemudian diterjemahkan ke bahasa Iran oleh penerjemah yang berdiri di sampingnya.

Ahmadinejad yang memakai jas lengkap -minus dasi- tampak tersenyum. Keduanya berdiri di samping foto poster SBY ukuran besar yang dipasang di depan kantor kepresidenan. SBY dan Ahmadinejad yang bertubuh ramping itu lalu menaiki tangga kantor kepresidenan untuk melakukan pembicaraan empat mata.

Sambutan terhadap SBY benar-benar hangat. Sepanjang jalan menuju kantor kepresidenan, foto poster SBY terpampang di mana-mana. Jalanan Teheran sangat minim iklan komersial. Yang banyak justru foto pemimpin spritual dan revolusi Islam Iran almarhum Ayatollah Khomeini dan pemimpin spiritual (Supreme Leader) Ali Khamenei.

Namun, khusus menyambut SBY, foto ukuran besar itu sudah menyambut delegasi Indonesia saat tiba di Bandara Internasional Mehraba, Senin (10/3).

Agenda pertemuan SBY kemarin, selain membahas masalah politik dan keamanan internasional, juga membicarakan kerja sama ekonomi kedua negara. Delegasi presiden yang dibawa dalam kunjungan ke Iran, antara lain, Ny Hj Ani Bambang Yudhoyono, Mensesneg Hatta Radjasa, Menlu Hassan Wirajuda, Menperdag Marie Elka Pangestu, Menteri Agama Maftuh Basyuni, dan Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah Alwi Shihab. Dari kalangan pengusaha tampak antara lain Ketua Kadin Moh. S. Hidayat, Dirut PT Pertamina Ari Sumarno, serta Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar.

Pada kunjungan SBY ke kantor kepresidenan kemarin, ibu negara Ani SBY tidak terlihat. Yang juga menarik, semua staf kepresidenan dan protokoler harus memakai busana longgar dan penutup kepala. Tak terkecuali Menteri Perdagangan Marie Pangestu yang tampak anggun dengan jarik batik, kebaya, kerudung merah muda.

Ahmadinejad terkesan sangat girang menyambut SBY. Boleh jadi itu terkait keputusan Indonesia mengambil sikap tidak mendukung (abstain) Resolusi 1747 Dewan Keamanan PBB yang memberi sanksi lebih berat untuk program nuklir Iran. Saat pengambilan suara di Dewan Keamanan Selasa (4/3), Indonesia menjadi lonely nation karena menjadi satu-satunya negara yang bersikap abstain. 14 negara lainnya mendukung resolusi.

Karena itu, saat dipertemukan dengan semua anggota delegasi, tak semua mendapat ciuman dari Ahmadinejad. Tapi, giliran Menlu Hassan dan Utusan Khusus Timur Tengah Alwi Shihab, keduanya dipeluk dan dihadiahi ciuman.

Perhatian terhadap kehadiran SBY sangat besar. Ini terlihat dari puluhan wartawan lokal dan internasional yang meliput. Pertemuan empat mata dan pembicaraan bilateral delegasi kedua negara berlangsung lumayan panjang, tiga jam lebih. Meski demikian, para wartawan itu terlihat dengan sabar menunggu. Ruang konferensi pers tak ada separonya Istana Merdeka, sehingga udara Teheran yang sebetulnya dingin jadi terasa gerah.

Kota Teheran sedang menyongsong musim semi. Pohon-pohon kebanyakan masih meranggas. Beberapa puncak gunung yang mengitari ibu kota Iran ini masih diselimuti salju.

Pada saat jumpa pers siangnya Ahmadinejad terang-terangan memuji sikap abstain Indonesia sebagai langkah yang bisa memengaruhi citra tentang Dewan Keamanan PBB. "Itu sikap yang adil," katanya.

Ahmadinejad yakin kehadiran Indonesia sebagai anggota tidak tetap di DK PBB bisa memengaruhi lembaga ini untuk menjaga perdamaian dunia. Sebagai negara

besar di Timur Tengah dan Asia Tenggara, mantan wali kota Teheran itu yakin Iran dan Indonesia bisa berperan dalam percaturan ekonomi serta mencari solusi bagi konflik di Palestina, Afghanistan, Iraq, dan lain-lain.

"Beliau adalah saudara saya," kata Ahmadinejad. Dia juga berjanji lebih banyak mengajak SBY membicarakan persoalan-persoalan kenegaraan bersama.

Usai jumpa pers, acara dilanjutkan jamuan santap siang. Ahmadinejad dan SBY lalu keluar dengan berjalan kaki dari kantor kepresidenan. Bak "saudara", keduanya saling menebar senyum dan lambaian tangan kepada para wartawan.

Jarak ke tempat makan siang itu sekitar 100 meter dari kantor presiden. Di luar dugaan, saat pintu gerbang kantor kepresidenan dibuka, beberapa gadis SD yang masih membawa tas sekolah mencegat SBY dan Ahmadinejad. Mereka berceloteh bareng dalam bahasa Iran. Rupanya, rombongan bocah itu ingin mengajak tamu negara Iran dan minta tanda tangan. SBY benar-benar sedang punya banyak fans di Iran. (*/kim)

Jawa Pos

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

March 11, 2008

Pembobol Kartu Kredit Raup Rp 30 Triliun

buaya darat kartu kredit.jpg

Pembobol Kartu Kredit Raup Rp 30 Triliun
Selasa, 11 Maret 2008 | 22:41 WIB

JAKARTA, SELASA- Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) memperkirakan, kerugian yang ditimbulkan oleh sindikat pemalsu kartu kredit yang dipimpun Mr Simon Woon alias Ciement, alias Ong Seng Chye mencapai Rp 30 triliun lebih.

Angka tersebut dihitung dari asumsi jumlah kartu kredit palsu yang beredar dan dipergunakan oleh anggota sindikat. Sementara otak sindikat pemalsu kartu kredit ini, Mr Simon, sampai saat masih buron. Diduga ia sudah melarikan diri ke tanah kelahirannya di Malaysia.

"Tersangka utamannya masih buron. Kita sudah koordinasi dengan Kepolisian Diraja Malaysia untuk menangkap DPO Simon alias Ong Seng Chye. Diduga ia berada di Malaysia," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Abubakar Nataprawira, Selasa (11/3).

Menurut keterangan Abubakar, kejahatan pemalsuan kartu kredit yang diotaki Mr Simon ini merupakan kejahatan dengan modus paling lengkap yang pernah diungkap oleh kepolisian di dunia.

"Pengakuan dari Risk Director Visa South Asia and South East Bank Mr Murugesh Khrisman, ini adalah kejahatan dengan modus paling lengkap. Lingkup modusnya multi aspek, yakni mulai menggunakan jaringan dalam pencurian data bank, penadah curian, pembuatan di pabrik kartu kredit palsu, pencetakan kartu palsu, hingga menggunakannya di merchant," jelas Abubakar.

Abubakar juga mengungkapkan adanya indikasi transaksi kartu kredit palsu ini dipakai oleh para pelaku jaringan narkoba. "Kita sebenarnya sudah mengembangkan untuk mengungkap jaringan kartu kredit palsu ini sejak 2006 lalu saat para pelaku narkoba yang dijaring di Surabaya ditemukan memiliki dan menggunakan beberapa jenis kartu kredit palsu," katanya.

Hanya saja langkah Polri ini selalu mengalami kendala. Jaringan ini menggunakan sistem sel terputus, sehingga selalu menemui jalan buntu. Baru pada 24 Januari 2008 lalu saat melakukan penggrebekan pesta narkoba di kamar 208 F Apartemen Puri Kemayoran, Jakarta Utara, dapat ditangkap delapan anggota sindikat pemalsu kartu kredit.

"Dalam penggrebekan itu kita temukan 7.600 kartu kredit palsu, bahan baku pembuatan kartu kredit, berbagai mesin press untuk membuat kartu kredit palsu, laptop, PC Komputer, USB, disc yang berisi data pemegang kartu kredit yang akan dipalsukan. Penangkapan ini langkah awal untuk membongkar jaringan pemalsu kartu kredit," ungkap Abubakar.

Dari penangkapan itu, kemudian berkembang ke tersangka lain dan berhasil digulung 14 orang anggota pemalsu kartu kredit. Hanya saja otaknya sampai sekarang belum berhasil dibekuk. Ia bersembunyi di tempat kelahirannya.

Ke-14 tersangka tersebut, dua diantaranya ditenggarai sebagai pelaku utama, yakni Subowo Purnomo alias Erwin, dan Kawi Rachmat. Lima orang lagi ditenggarai sebagai pencuri data, yakni Apriadi, Iwan Setiawan, Hendra, Ansori, dan Ade. Sementara sebagai pembuat kartu kredit ada dua orang, yakni Arco dan Jerry. Lima orang sisanya, yakni M Rizal, Antonius, Kiki, Ferry Salim, dan Otek, diduga sebagai pengedar kartu kredit palsu. (Persda Network/sugiyarto)


Kompas

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment